Poetry of the week
DENGAN PUISI, AKU
Poet by Taufik Ismail
Dengan puisi aku bernyanyi
sampai senja usiaku nanti
Dengan puisi aku bercinta
berbatas cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian Yang Akan Datang
Dengan puisi aku menangis
jarum jam bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
perkenankanlah kirannya
1965 (Tirani dan Benteng, hal 62)
Poetry of the week
KEREMANGAN, AKU TETAP BERSAMA
Poetry by Eko Wibowo
Keremangan malam merayap seperti biasa
Aku juga tetap disini
Tetap menunggu bulan terjatuh
Bersama ribuan bintang berkelipan
Keremangan malam merayap seperti biasa
Aku juga tetap disini
Tetap mengharap kupu-kupu terhinggap dihati
Bersama ribuan warna sayap keceriaan
Keremangan malam merayap seperti biasa
Aku juga tetap disini
Tetap mengharap datangnya sang tuan putri……….
Bersama jutaan kasih tak terhingga
Tapi apakah semua itu mungkin?!
====@@@====
5 Maret 2006
Poetry of the week
AKU INGIN
Poet By Supardi Djoko Danomo
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
====@@@====
“Poetry Of The Week”
TELAGA BIRU
Poetry By Eko Wibowo
Telaga Biru
Kau telah menenggelamkan batu besar sekian lama
Lama sekali menunggu surut airmu
Hanya untuk memunculkan muka saja
Hanya muka saja
Cukup muka saja
Tapi aku tidak mampu menghentikan air mataku
yang selalu mengalir menebar nila kesedihan
yang semakin menenggelamkan aku lebih
lebih-lama
lebih dalam
lebih menyesakkan dada
Telaga Biru
Aku sudah putus asa dengan keindahan airmu
Keinginan untuk muncul telah berubah kini
Di kejauhan aku melihat satu harapan lain
Indah sekali
aku ingin mendekati-Nya seberat apapun sisanya
Banyu Biru
Lebur aku sekarang juga!
Supaya aku bisa menyentuh-Nya
====@@@====
(26 Desember 2004)
“POETRY OF THE WEEK”
BELUM JUGA DI TITIK TENGAH
Poet by Romo Mudji Sutrisno
Belum juga kita paham artinya kebebasan
kalau tak mampu bilang "tidak" pada kelobaan.
Belum Juga kita tahu artinya kesenian
kalau imaji kita umbar tanpa beban.
Belum juga kita kenal makna kehidupan:
kalau tanda tanya kita simpan tanpa ikhtiar menyelesaikan
Belum Juga kita beranjak ke jenjang dewasa
kalau mau kita menyumbari kuasa.
Belum juga kita tulus lukisan,
kalau kita tak siap memilih kata.
Kata ungkapan hari bernada.
Tanpa kata, hidup terlalu puisi.
Terlalu banyak kata, hidup terlampau prosa.
Tahukah kita di TITIK TENGAH, kalau mau menjadi?
(22-2-89 - 24-2-90)